May 30, 2007

100 tahun Gugurnya Sisingamangaraja

Kenalkah Anda dengan Raja SISINGAMANGARAJA XII, seseorang yang wajahnya kita kenal lewat duit seribuan rupiah dengan ’janggutnya’ yang terkenal itu... Seorang pahlawan nasional yang pada bulan Juni nanti menginjak tepat 100 tahun gugur. Dear Readers, dia ternyata lebih heroik daripada Spiderman III. Ada hikmahnya juga nih, garagara ada kerjaan kantor jadi deh Gw mengenal siapa itu Sisingamangaraja)

PADA tanggal 02 Juni akan ada rangkaian peringatan 100 tahun gugurnya Raja SISINGAMANGARAJA XII. Seorang Raja sekaligus pahlawan nasional, yang bertempat di Kabupaten Humbang Hasundutan, Provinsi Sumatera Utara. Eee sebentar ...Humbang Hasundutan. Aneh gak sih nama itu. Dulu aku kira namanya Kumbang Kasundutan, ketika pertama kali kudengar dari Dr Nuzul Achjar, tetapi setelah confirm dengan pegawai DPU Kabupaten/kota Nias yaitu Bernard Nazara namanya adalah Humbang Hasundutan. Sebuah kabupaten yang baru muncul akhir-akhir tahun ini karena pemekaran.
Anyway, kita kembali ke laptop ..eh ke Raja Sisingamangaraja XII. Dia pahlawan yang dicinta sekaligus dibenci. Dicinta oleh orang batak yang Islam, tetapi dibenci orang Batak yang Kristen. Diceritakan bahwa Raja ini membakar kampung-kampung tempat orang Kristen, padahal nih maksud sebenernya gitu Raja ini berusaha membumihanguskan orang-orang Belanda yang memakai gereja (istilahnya zending) sebagai markasnya. Saking pusingnya maen perang-perangan (baca: perang beneran) Belanda lalu melakukan upaya pendekatan (diplomasi) dengan menawarkan penobatan Si Singamangaraja sebagai Sultan Batak, dengan berbagai hak istimewa sebagaimana lazim dilakukan Belanda di daerah lain. Namun Si Singamangaraja menolak tawaran itu. Dikasih jabatan empuk malah nolak –mending perang. Gila nggak tuh.
Nah apesnya Raja Sisinga malah dimusuhi orang Batak laen yang didekati Belanda, atawa yang dimanfaatkan oleh penjajah. Isu ini berkembang jauh bahkan sesudah kematian Sisinga. Sampe-sampe pernah tahun 1969 (tepatnya tanggal 1 Oktober 1969) di Soposurung Balige, seorang Bupati K.D.H. Tapanuli Utara mengatakan bahwa keterlibatan orang-orang Batak yang ikut menyerang Si Singamangaraja XII sebagai “oknum-oknum yang mengkhianati perjuangan bangsa” –Presiden waktu itu (pak Harto) juga hadir pada acara tersebut. Padahal bisa aja mereka yang memusuhi Si Singa adalah Batak Kristen yang kaaffah, alias yang murni memegang teguh keyakinannya, yang tidak menjilat kepada kekuasaan Belanda.
Dan tentang Batak Kristen yang membenci Sisinga. Pendeta (asing) di Batak satu-satunya yang masih hidup adalah Nomensen. Nah si nomensen ini bersifat netral –tidak memihak kubu manapun. Karena dia orang Jerman. Eeee wait a minute, jadi inget ceritanya Prof Sukadji Ranuwihardjo deh. Dulu waktu gw sit-in di kuliah Ekonomi Indonesia sekitar tahun 1998 dia cerita begini, ”Saudara-saudara sekalian, sewaktu saya jadi Dirjen Dikti pernah menemani Diplomat Indonesia menerima delegasi Jerman. Diplomat ini orang Batak lalu membuka dilaog dengan joke. Katanya: di darah saya yang Batak ini mengalir darah Jerman... Karena dulu pendeta-pendeta Jerman yang datang ke Indonesia dimakan oleh bangsa kami. Hanya satu yang masih hidup: Nomensen...“
Kembali ke laptop ..eh ke Raja Sisingamangaraja XII, bahwa berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 590 tahun 1961 tanggal 19 Nopember 1961 Sisingamangaraja XII oleh Pemerintah RI dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional. Gelar ini merupakan bentuk penghargaan tertinggi dan terhormat yang diberikan oleh pemerintah kepadanya atas segala peran dan perjuangan beliau dalam merebut kemerdekaan RI khususnya didaerah Tanah Batak - Sumatera Utara.

Pembaca sekalian,
ADA ungkapan yang menyatakan bahwa: Bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu menghargai jasa-jasa para pahlawannya. Tetapi ironisnya pada masa sekarang ini kita rasakan penghargaan terhadap jasa-jasa pahlawan makin luntur. Kita dan generasi muda perlu diingatkan kembali arti penting dan makna Pahlawan yang sarat nilai sejarah. Kita harus sadar, semua yang ada dan pembangunan bisa berjalan berkat tetesan darah para pejuang. Bangsa Indonesia tidak akan maju dan mempunyai character building jika tak mampu menghargai pengorbanan para pahlawan.
Mereka yang disebut “pahlawan” adalah seseorang warga negara yang telah berjasa besar dan luar biasa kepada bangsa dan negara, rela berkorban dan berjuang tanpa pamrih. Dikatakan pahlawan karena mereka merupakan sosok panutan yang telah melahirkan nilai-nilai keteladanan yang luhur dan semangat kepahlawanan (heroisme) yang pada jamannya mewarnai sikap dan perilaku kehidupannya dalam memperjuangkan nasib bangsa dan negara ini.
Jumlah pahlawan nasional sampai dengan tahun 2006 kemarin adalah sejumlah 143 orang. Dari sejumlah pahlawan itu jangan melupakan “pahlawan tanpa tanda jasa” atau bapak/ibu Guru kita yang jumlahnya mencapai 3 juta orang di Indonesia.

Pembaca yang budiman,
PEMDA Humbang Hasundutan akan menyelenggarakan Seminar Nasional tangal 02 Juni 2007 yang mengambil tema Menatap Sisingamaraja XII di Panggung Sejarah: Mewarisi Etos Perjuangan Sisingamaraja XII bagi Indonesia Abad XXI. Perlu ditegaskan bahwa makna “Mewarisi Etos” berarti fokusnya pada ‘etos’, bukan ‘mitos’. Mewarisi Etos berarti meneladani jiwa dan semangat perubahan, bukan mitos yang bersifat klenik atau misteri. Selama ini terdapat mitos bahwa Sisingamangaraja mampu mendatangkan hujan dsb -itu kan mitos. Tetapi etos melawan penindasan, dan penolakan bujukan atas jabatan, itu yang kudu dilestarikan.
Mewarisi etos sangat relevan terutama dikaitkan peristiwa kebangsaan akhir-akhir ini ketika kita masih berada dalam suasana peringatan Kebangkitan Nasional tanggal 20 Mei yang lalu. Peringatan Kebangkitan Nasional merupakan perode awal tumbuhnya rasa nasionalisme dikalangan rakyat Indonesia yang pada saat itu masih bersifat kedaerahan dan belum menjadi semangat yang berwawasan kebangsaan.
Perjuangan Si Singamangaraja XII harus ditiru oleh generasi sekarang, untuk kemudian disosialisasikan kepada masyarakat secara luas. Selama ini kita tidak mempunyai wahana untuk sosialisasi pahlawan dan nilai-nilai kepahlawanan secara luas, padahal nilai kepahlawanan perlu tetap dilestarikan untuk menunjang eksistensi bangsa dan negara di tengah pergaulan dunia.
Menghargai jasa pahlawan berarti kita tidak melupakan sejarah. Ada kata-kata hikmah bahwa ”masa lalu adalah sejarah, masa depan itu misteri, masa kini adalah karunia”. Dengan sejarah mari kita mensyukuri hari ini, dan merencanakan masa depan.
Pertanyaannya, bagaimana kita merencanakan ke depan dan berefleksi dengan hal-hal yang telah kita lakukan? Kita perlu kembali ke Pancasila. Peradaban dan kebudayaan tidak bisa lepas dari proses pendidikan untuk memanusiakan manusia dalam kerangka keindonesiaan yang kita miliki.
Oleh karenanya, peradaban seharusnya didesain oleh nilai-nilai kehidupan yang bernas untuk membangkitkan kembali keterpurukan bangsa ini. Pancasila sebagai ideologi terbuka yang memungkinkan tumbuhnya nilai-nilai baru, sehingga harus terus-menerus disegarkan dan dihidupkan agar Pancasila tetap menjadi "ideologi kehidupan" dalam menjawab tantangan masa depan. Dengan landasan Pancasila pendidikan bangsa memperoleh landasan spiritual, moral dan etika yang bersumber pada ke-Tuhanan Yang Maha Esa.
Sikap budaya harmonis itu banyak persamaannya dengan sikap dan budaya berbagai bangsa di Asia –sehingga kita sebut budaya Timur. Namun, sikap budaya itu berbeda, bahkan bertentangan dengan sikap budaya dunia Barat yang sejak Renaissance di abad ke-15 mengambil sikap budaya yang menaklukkan alam (to conquer nature). Sisingamangaraja menolak invasi Belanda dalam hal ini, karena tidak sesuai dengan harmoni.
Jika sikap budaya Harmoni memandang kebersamaan atau masyarakat sebagai pilar kehidupan, maka sikap budaya Barat menganggap individu manusia sebagai nilai utama. Itu sebabnya dunia Barat menghasilkan individualisme dan liberalisme, diikuti materialisme yang bermuara pada imperialisme dan kolonialisme.
Maka perayaan untuk memperingati sumbangsih Raja Sisingamangaraja berarti mengembalikan memori kita kepada jasa pahlawan, selain itu mengingatkan akan jasa-jasa pahlawan dan para pendiri Bangsa, yaitu melaksanakan Pancasila secara murni dan konsekuen. Kesalahan orde terdahulu melalui P4 adalah membuat Pancasila menjadi seakan-akan kita sebagai warga negara harus monoloyalitas terhadap seseorang, terhadap rejim bersangkutan. Padahal tidak, kita harus monoloyalitas kepada NKRI. Titik.

No comments: